Minat masyarakat Kita Semarang untuk ikut melestarikan seni dan budaya sangat rendah. Terbukti kunjungan masyarakat ke gedung kesenian Sribudoyo Kinartosabdo kompleks TBRS (Taman Budaya Raden Saleh), tempat pertunjukan wayang orang (WO) Ngesti Pandowo, rendah. Sepertinya masyarakat kota ini tidak tertarik lagi dan enggan menyaksikan karya seni yang merupakan aset budaya bangsa bernilai tinggi ini.
Tempat yang semula merupakan Taman Hiburan Rakyat sebagai kebun binatang yang dimiliki kota Semarang , kini setelah kebun binatang dipindah ke daerah Tinjomoyo, menjadi Taman Budaya Raden Saleh. Dengan fasilitas berupa gedung berkapasitas 1000 orang, taman ini lebih dikenal sebagai tempat pertemuan dan resepsi pernikahan. Ngesti pandowo hanya dipinjami tempat tersebut akan tetapi tidak dikenalkan kepada masyarakat sekitar .
Sebuah taman wisata yang terletak di pusat kota , tepatnya di Jalan Sriwijaya No. 29 Semarang dengan luas lahan 89.926 m2. Selain terletak pada posisi strategis, taman ini memiliki kontur tanah dan pepohonan tua dan rindang yang bila ditata dan dikelola secara professional akan menjadi salah satu sarana rekreasi yang layak jual dan berpotensi menarik minat wisatawan. Manajemen TBRS sampai saat ini terkesan belum memiliki konsep yang jelas, atau setidaknya belum tersentuh arsitektur yang memiliki daya tarik.
Infrastruktur dan isi taman tersebut selain tidak terawat, juga belum memilki karakteristik yang dapat menggambarkan sebuah kawasan wisata yang layak dinikmati. Karena itulah agar taman tersebut dapat memiliki nilai tambah ( added value ) dan nilai jual, maka perlu dilakukan penataan ulang kawasan TBRS dengan konsep yang jelas dan terpadu yang sesuai dengan kontur lahan yang ada.
SUARA gending mengalun. Kursi penonton masih kosong. Di depan panggung para pengrawit memainkan peralatan masing-masing. Cahaya lampu menyorot layar yang masih terkembang. Dekorasi panggung tertata apik dengan puncak logo bergambar mangkoro dan tulisan “Ngesti Pandowo” bertuliskan huruf Jawa di bawahnya. Alunan gamelan berhenti sejenak, hening, lalu mengalun lagi dengan layar tergulung ke atas. Sesosok kera berwarna putih bersimpuh beberapa saat, kemudian menari, tanda pertunjukan wayang dengan lakon “Anoman Obong” dimulai. Ruang Gedung Ki Narto Sabdo di kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang yang berkapasitas 240 penonton, tak termasuk balkon, hanya terisi 35 orang, yang menyimak pertunjukan dan dialog pemain yang lamat-lamat. Seperti wayang – wayang yang lain Ngesti juga menyajikan cerita Mahabarata, cerita Ramayana, juga Wayang POP.
Dulu, kesenian ini menjadi primadona dan tontonan sangat menarik bagi warga kota . Kejayaan kesenian WO Ngesti Pandowo kini mulai pudar seiring beragamnya tontonan baru yang dianggap lebih menarik dan menghibur, seperti pentas musik (pop, rock, dangdut) , pentas tari modern, dansa. Pertunjukan WO ini kalah pamor dan miskin peminat.
Kondisi ini sangat berbeda dengan era 1980-an saat kejayaan Ngesti Pandowo, di mana pertunjukan WO dapat dinikmati setiap hari. Saat ini pertunjukan hanya pada malam Minggu dan jumlah penonton pun tidak lebih dari 50 orang, sebagian besar lansia (orang tua).
Pentas WO Ngesti Pandowo masih terkesan sebatas untuk nguri-uri budaya Jawa agar tidak terlindas zaman. Pentas ini belum dipandang sebagai aset berharga yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan asing di kota ini. Sudah seharusnya Ngesti Pandowo mengemas paket sajian pertunjukan yang lebih mudah dicerna wisatawan asing atau kelompok penonton lain seperti remaja dan anak-anak.
Kembang-kempisnya WO Ngesti Pandowo yang masuk di Semarang tahun 1954 menjadi dilema dan keprihatinan kita. Semestinya pemerintah kota memberi perhatian lebih serius. Ngesti Pandowo adalah sebuah aset seni dan budaya yang tak dapat di nilai dengan uang, maka selayaknya pemerintah ikut berupaya mengembalikan kejayaan dan citra kesenian ini di mata masyarakat kota sekaligus wisatawan asing. Ini juga upaya melestarikan kesenian tradisional
POPULARITAS Ngesti Pandawa memperkuat identitas kultural kota Semarang di mata masyarakat berkat pagelaran yang terbit di Semarang antara kurun waktu 1945-1960-an. Ngesti Pandawa sebuah kelompok seni pedalangan yang berkembang sejak 1940-an di kota Semarang . Kelompok ini dikenal karena popularitas tema dan sajian yang diberikan.
“Keberadaan Ngesti Pandawa tak terpisahkan dari sosok dalang Ki Narto Sabdo. Walau secara substansi permainan dalang yang dimainkan Ngesti Pandawa banyak dipengaruhi tradisi Surakarta . Ki Narto Sabdo, sebagai dalang telah mampu mengubah ‘pola lama’ sehingga seni pedalangan menjadi populer di masyarakat. Bahkan beberapa ahli menyebut seni pedalangan yang dimainkan Ki Narto Sabdo melalui Ngesti Pandawa penuh dengan penyimpangan dari tradisi pedalangan yang ada. Keberadaan sosok kelahiran Kalasan ini tak terpisahkan dengan masyarakat Semarang . Sementara Gambang Semarangan merupakan seni tradisi yang lahir atau diciptakan pertama kali sejak tahun 1940-an dirintis oleh Oei Yok Siang (sebagai pembuat lagu) dan Sidik Pramono (penulis syair). Identitas yang sangat lekat dengan Gambang Semarangan antara lain dari dialek, cerita rakyat, tembang dolanan dan macapat, selain ciri khas yang lain pada busana dan karawitannya. Tiga nama Ki Narto Sabdo (Ngesti Pandawa), Oei Yok Siang dan Sidik Pramono (Gambang Semarangan) inilah yang ikut melambungkan seni budaya, sehingga Semarang memiliki identitas kota. Mengutip Pendapat Zoetmulder. Semarang merupakan pusat kekuatan politik dan budaya Jawa yang penting pada pertengahan abad ke-16.
Ngesti Pandowo didirikan oleh Sastro Sabdho di Maespati, Madiun, 1 Juli 1937. Pertunjukan pertama “Endang Werdiningsih” beroleh sukses. Ngesti Pandowo kemudian menjadi kelompok wayang keliling. Dengan ukuran tonil (panggung) masih kecil dan kelir 7 ban per meter, serta busana dan gamelan sewaan, Ngesti Pandowo pentas dari satu pasar malam ke pasar malam; di Nganjuk, Kediri, Tukung Agung, Blitar, Kertosono, dan kembali ke Madiun. Sastro Sabdho kemudian diperkuat oleh Sastrosoedirdjo, Kusni, Darso Sabdho, Narto Sabdho, dan Marno Sabdho.
Keadaan susah dialami ketika zaman Jepang karena pemberlakuan jam malam dan sensor. Masalah datang ketika main di bioskop Gran dengan lakon “Kikis Tunggorono”. Sutradara Kusni diminta menghadap bagian sensor, dan diinterogasi. Lolos sensor, dan Ngesti Pandowo pun bisa pentas lagi. Keadaan susah ini bertahan hingga Jepang menyerah.
Mulai tahun 1949 sampai 1966 paguyuban Wayang Orang Ngesti Pandowo mulai menata kegiatan dan bangkit kembali di kota Semarang dan sekitarnya. Berkat keuletan mereka, Ngesti Pandowo pun beroleh kesempatan pentas di Istana Negara Jakarta yang dihadiri oleh Presiden RI Pertama Bung Karno. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1960, Paguyuban Wayang Orang Ngesti Pandowo memeroleh piagam dari Presiden Republik Indonesia . Penghargaan berupa piagam “Wijaya Kusuma” diberikan pada tanggal 17 Agustus 1962, berkat upaya dan kiprah para seniman yang telah menghasilkan karya seni budaya yang ada di Kotamadya Semarang . Berkat kepemimpinan Ki Sastro sabdho, Wayang Orang Ngesti Pandowo telah berhasil mengangkat citra seni wayang orang khususnya, seni tradisi umumnya dengan memeroleh penghargaan tertinggi yang membenggakan para seniman seniwati pendukungnya.
Di GRIS Ngesti Pandowo mengalami kejayaan. Mengunjungi Semarang tanpa menonton Ngesti Pandowo sungguh suatu kerugian, begitu kata orang-orang Semarang tempo doeloe. Begitu juga turis asing yang mengunjungi Indonesia . Ngesti Pandowo menjadi salah satu trade mark kota Semarang . “Dulu meski hujan ada penonton. Gedung belum dibuka, orang-orang sudah antri beli karcis dan pesan tempat. Kalau tak pesan tempat, tak kebagian. Tak jarang ada penggemar yang kedanan (tergila-gila). Talok termasuk pemain yang punya banyak penggemar sebagai Abimanyu.
Soekarno salah satu penggemar wayang orang ini. Ada dua bambangan cakil kesayangan Soekarno yang dimainkan oleh Soetjipto dan Soewarni. Keduanya pemenang lomba tari bambangan cakil seluruh Jawa yang diadakan pemerintah. Mereka kerap diundang ke Istana Negara untuk menghibur tamu-tamu negara, serta tiap perayaan kemerdekaan Indonesia . Ketika Soewarni keluar dari Ngesti Pandowo, Talok menggantikannya.
Suatu ketika, Ngesti Pandowo pentas di Ikada. Soekarno datang, lalu meminta Ngesti Pandowo tampil di Istana keesokan harinya. Selepas tampil, Soekarno mengajak makan sembari mengobrol dan bercanda.
Untuk meningkatkan penghasilan pada 1959 Ngesti Pandowo masuk dapur rekaman. Sebagai langkah percobaan Ngesti Pandowo menjual naskah cerita “Kongso Adu Jago” dan “Kresno Kembang” dengan harga Rp 45.000 kepada Remaco yang merekamnya dalam bentuk piringan hitam. Karena relatif sukses, Remaco kemudian meminta lima naskah lagi untuk direkam. Soeratno dan Talok menikmati masa jaya Ngesti Pandowo yang berdampak pada kesejahteraan anak-anak wayang. Ngesti Pandowo menanggung biaya sakit, melahirkan, maupun kebutuhan sekolah anak-anak anggota.
Pada 8 Januari 1966, Ngesti Pandowo harus bersedih. Karena salah satu pendiri mereka, Ki Sastro Sabdho berpulang ke hadirat Ilahi. Perjuangan Ki Sastro Sabdho dilanjutkan oleh penerus-penerusnya yakni: Sastro Sudirjo, Ki Narto sabdho dan Ki Koesni. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya, itulah gambaran Ngesti Pandowo selanjutnya setelah para pendiri paguyuban ini mangkat. Sastro Sudirjo meninggal pada 19 Juli 1984. Pimpinan Wayang Orang Ngesti Pandowo digantikan oleh Ki Narto sabdho. Namun karena kesibukannya sebagai Dalang terkenal, Ngesti Pandowo mulai jarang mengadakan pentas dan pergelaran. Setahun sepeninggal Ki Sastro Sudirjo, Ki Narto Sabdho juga wafat pada tanggal 7 Oktober 1985. Semenjak itu hilang penancap tonggak sejarah berdirinya Paguyuban WO Ngesti Pandowo.
Zaman berubah, perlahan kejayaan itu meredup. Sesudah Kusni meninggal pada 1980, kemudian diikuti Sastrosoedirdjo pada 1984, dan Ki Narto Sabdho setahun kemudian, Ngesti Pandowo kehilangan tokoh-tokoh panutan. Bersamaan dengan itu, muncul kesulitan kronis soal manajemen dan kreativitas, hingga terlontar untuk menjual peralatan dan inventaris. Jumlah penonton makin surut hingga menyisakan 5 orang per malam. Kesejahteraan perlahan dikurangi dan kemudian dihentikan. Ketika masalah ini terselesaikan, muncul masalah lain yang bahkan lebih berat. Pada November 1996, Ngesti Pandowo digusur dari GRIS yang diambil-alih oleh pihak ketiga, Bank Pembangunan Daerah Jateng. Penggusuran ini mengejutkan masyarakat. Radio BBC menyiarkan sekaligus menyesalkannya. Anak-anak wayang kecewa, sedih, tak bisa membayangkan apakah masih bisa pentas dan mendapatkan uang.
Ngesti Pandowo kemudian diizinkan pentas di gedung TBRS, tanpa jadwal yang jelas dan tanpa background. Enam bulan berhenti pentas, Ngesti Pandowo menyewa gedung di Istana Majapahit dan bisa menggelar pentas secara penuh. Namun pengunjung telah berkurang drastis, hingga biaya sewa tak terbayar. Bantuan pemerintah daerah pun hanya bertahan 4 bulan. Terakhir, Gedung Ki Narto Sabdo di TBRS menjadi tempat pementasan, hingga kini.
Pemkot harus bisa mengoptimalkan potensi yang ada. Tanpa dukungan pemkot dan masyarakat Kota Semarang, kejayaan kesenian WO Ngesti Pandowo akan semakin pudar dan semakin sulit bertahan di tengah maraknya persaingan dunia hiburan dewasa ini. Meski Kota Semarang bukanlah kota budaya seperti Kota Solo atau Yogyakarta , apa salahnya jika kesenian yang sudah ada di jaga agar tidak punah ditelan zaman.
0 komentar:
Post a Comment
comment please: